Ayah.
Setiap kali burung camar menembus cakrawala dalam batasan pantai.
Mata-mata yang memandang dibuat takjub. Sebab matahari yang besarnya tinggal
separuh, seakan-akan dilumatnya habis-habisan. Para nelayan yang baru saja
pulang dari melaut, meletakkan sampannya dipinggiran pantai. Menenteng hasil
pancingnya seharian meski tak banyak. Maka lelaki yang setiap harinya duduk
terdiam diatas batu-batu pantai yang besar. Melamun, seperti menunggu sesuatu
hal yang ditunggunya. Barangkali ia tengah menunggu burung camar membawa
matahari untuk dirinya sendiri, kemudian ia memakan nya dengan begitu nikmat
seperti memakan kuning telur. Para nelayan yang biasa melewatinya hanya
menunduk pasrah, terkadang mereka tersenyum kearah lelaki yang berkumis tebal itu.
Tetapi sering kali diacuhkannya. Maka jagan heran, bila setiap senja datang.
Lelaki yang tampak murung itu selalu ada disana hingga semalam penuh.
“Dewa-dewi ku,
atau dewa-dewimu. Anak malang.” Katanya berulang kali.
Suara lelaki itu tak jauh gagah dengan
suara lelaki pada umumnya. Ia juga masih kuat `tuk berlari, masih kuat `tuk mengangkat
batu-batu kerikil. Dia juga masih sempat tertawa, namun sayangnya hari ini.
Raut sedihnya tampak begitu jelas, bibirnya mengerut. Kedua pipinya kempet.
“Wahai dewa-dewi
lautan, kembalikan anakku.” Gerutunya, hingga butiran-butiran jernih menetes
bersama gemericik ombak pantai.
Dahulu ia adalah sesosok pemuda yang begitu tampan. Banyak yang
mengira bila ia masih berusia 19 tahun. Padahal usianya berkisar 27 tahunan.
Hampir 30 tahun. Gadis – gadis pantai yang memandangnya seperti dibuat takjub
oleh katampanan pria itu. Dia juga pekerja keras, siang-malam banting tulang
demi menghidupi satu buah istri serta 2 buah anak laki-lakinya. Tetapi terkadang
Tuhan begitu menyebalkan. Hingga suatu ketika, seluruh keluarganya mati gantung
diri. Diatas tiang-tiang listrik. Dikatakan pula, istrinya tidak betah hidup
bersanding dengan pemuda yang dahulunya tampan itu. Maka anak beranak itu tega
mengakhiri kehidupannya.
Maka saat itu pula, ketampanan
laki-laki yang dahulu dieluh-eluh kan para gadis pantai buyar seketika. Dia
tidak lagi seramah dahulu, tidak lagi pekerja keras seperti dahulu. Lebih banyak
menghabiskan waktu di pinggiran pantai, sekadar merenung. Kemudian tertawa sendirian
di tengah kehidupan yang menggetirkan. Baginya apa guna setetes keringat yang
berkucur, bila tiada yang istimewa selain keluarga yang dicintainya. Apa guna sebutir
nasi, bila yang memakannya hanyalah kuman-kuman yang ukurannya begitu kecil.
Setidaknya dia pernah menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab.
Lelaki itu, diam-diam
mengamati langit. Yang ujungnya sudah
tak tampak oleh warna. Sebab ditutupi warna yang pekat. Kini waktu sudah
menunjukkan malam. Dia masih berangan, tentang impiannya.
“Pada malam, aku selalu bernyanyi. Apalah arti dunia ini. Wahai
kekasih hati....” ucap lelaki.
Barangkali ia masih betah dengan suasana pantai malam yang dingin.
Para camar pun bertebangan di tengah ombak. Mereka seakan-akan menjawab
nyanyian dari lelaki itu. “Wahai kau, yang tengah bernyanyi. Bisakah kau tak
sesali. Tentang kehidupan ini....”
Lelaki itu pun menjawab “Maka apa yang harus nya aku sesali. Bila
bukan pada kehidupan ini. Miris rasa hati. Melihat semua keluarga telah
pergi... miris hati...”
ha aha..., bajak email mu....., lucu.. terlalu puitis.. Dodol..
BalasHapus