Kamis, 05 Mei 2016

Ayah



Ayah.

Setiap kali burung camar menembus cakrawala dalam batasan pantai. Mata-mata yang memandang dibuat takjub. Sebab matahari yang besarnya tinggal separuh, seakan-akan dilumatnya habis-habisan. Para nelayan yang baru saja pulang dari melaut, meletakkan sampannya dipinggiran pantai. Menenteng hasil pancingnya seharian meski tak banyak. Maka lelaki yang setiap harinya duduk terdiam diatas batu-batu pantai yang besar. Melamun, seperti menunggu sesuatu hal yang ditunggunya. Barangkali ia tengah menunggu burung camar membawa matahari untuk dirinya sendiri, kemudian ia memakan nya dengan begitu nikmat seperti memakan kuning telur. Para nelayan yang biasa melewatinya hanya menunduk pasrah, terkadang mereka tersenyum kearah lelaki yang berkumis tebal itu. Tetapi sering kali diacuhkannya. Maka jagan heran, bila setiap senja datang. Lelaki yang tampak murung itu selalu ada disana hingga semalam penuh.
“Dewa-dewi ku, atau dewa-dewimu. Anak malang.” Katanya berulang kali.
            Suara lelaki itu tak jauh gagah dengan suara lelaki pada umumnya. Ia juga masih kuat `tuk berlari, masih kuat `tuk mengangkat batu-batu kerikil. Dia juga masih sempat tertawa, namun sayangnya hari ini. Raut sedihnya tampak begitu jelas, bibirnya mengerut. Kedua pipinya kempet.
“Wahai dewa-dewi lautan, kembalikan anakku.” Gerutunya, hingga butiran-butiran jernih menetes bersama gemericik ombak pantai.
Dahulu ia adalah sesosok pemuda yang begitu tampan. Banyak yang mengira bila ia masih berusia 19 tahun. Padahal usianya berkisar 27 tahunan. Hampir 30 tahun. Gadis – gadis pantai yang memandangnya seperti dibuat takjub oleh katampanan pria itu. Dia juga pekerja keras, siang-malam banting tulang demi menghidupi satu buah istri serta 2 buah anak laki-lakinya. Tetapi terkadang Tuhan begitu menyebalkan. Hingga suatu ketika, seluruh keluarganya mati gantung diri. Diatas tiang-tiang listrik. Dikatakan pula, istrinya tidak betah hidup bersanding dengan pemuda yang dahulunya tampan itu. Maka anak beranak itu tega mengakhiri kehidupannya.
            Maka saat itu pula, ketampanan laki-laki yang dahulu dieluh-eluh kan para gadis pantai buyar seketika. Dia tidak lagi seramah dahulu, tidak lagi pekerja keras seperti dahulu. Lebih banyak menghabiskan waktu di pinggiran pantai, sekadar merenung. Kemudian tertawa sendirian di tengah kehidupan yang menggetirkan. Baginya apa guna setetes keringat yang berkucur, bila tiada yang istimewa selain keluarga yang dicintainya. Apa guna sebutir nasi, bila yang memakannya hanyalah kuman-kuman yang ukurannya begitu kecil. Setidaknya dia pernah menjadi anggota keluarga yang bertanggung jawab.
Lelaki itu,  diam-diam mengamati langit. Yang ujungnya sudah  tak tampak oleh warna. Sebab ditutupi warna yang pekat. Kini waktu sudah menunjukkan malam. Dia masih berangan, tentang impiannya.
“Pada malam, aku selalu bernyanyi. Apalah arti dunia ini. Wahai kekasih hati....” ucap lelaki.
Barangkali ia masih betah dengan suasana pantai malam yang dingin. Para camar pun bertebangan di tengah ombak. Mereka seakan-akan menjawab nyanyian dari lelaki itu. “Wahai kau, yang tengah bernyanyi. Bisakah kau tak sesali. Tentang kehidupan ini....”
Lelaki itu pun menjawab “Maka apa yang harus nya aku sesali. Bila bukan pada kehidupan ini. Miris rasa hati. Melihat semua keluarga telah pergi... miris hati...”